Sebentar lagi umat muslim memasuki tahun baru Islam 1431 H. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Detik dan menit terus berputar. Hari berganti hari menggenapkan hitungan minggu, bulan dan tahun. Silih berganti seiring pergantian siang dan malam. Pergantian ini tiadalah tanpa makna. Pergantian ini bagian dari kekuasaan Allah swt.
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi dan pergantian malam dan siang
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.” Ali Imran:191
Pergantian
siang, malam, hari, pekan, bulan dan tahun adalah menjadi bagian dari
kekuasaan Allah swt. Bahwa Dia-lah yang memiliki semua ini. Dialah yang
mengedarkan bintang gemintang. Dialah yang menjadikan matahari sebagai
pusat tata surya, menghamparkan bumi dan menetapkan hidup dan mati.
Allah swt. berfirman:
“Demi
matahari dan sinarnya di pagi hari. Demi bulan apabila ia mengiringi.
Demi siang apabila ia menampakkan diri. Demi malam apabila ia menutupi.
Demi langit serta binaannya. Demi bumi serta penghamparannya. Demi jiwa
dengan segala penyempurnaan (ciptaan)-Nya. Allah mengilhami sukma,
keburukan dan kebaikan. Beruntunglah siapa yang membersihkannya, rugilah
siapa yang mengotorinya.” As-Syams:1-10
Pergantian
tahun berarti bertambah pula usia kita, otomatis juga jatah umur kita
berkurang. Semakin mendekati kematian. Penyair Arab mengatakan:
“Innama
anta ayyam, idza madha minnka yaumun, madha ba’dhah. Anda adalah
rangkaian dari hari-hari. Jika satu hari telah lewat, maka akan
berkurang umur Anda.”
Lalu, apa
yang sudah kita perbuat dari bertambahnya umur kita? Jawaban ini
penting, karena suka tidak suka setiap yang hidup pasti akan menunggu
giliran mati. Kematian adalah bukan akhir dari kehidupan. Justru awal
dari kehidupan kekal abadi. Akhirat adalah waktu di mana penyelesaian
perkara setiap manusia diselesaikan secara seadil-adilnya. Jika waktu di
dunia perkara manusia ada yang bisa di manipulasi, di akhirat semua
akan dibuka dan putuskan secara adil.
Hakikat Hijrah
Hijrah berarti berpindah atau meninggalkan. Dalam makna ini, hijrah memiliki dua bentuk. Hijrah Makaniyah dan Hijrah Ma’nawiyah. Hijrah makaniyah adalah berpindah secara fisik, dari satu tempat ke tempat lain. Kebanyakan ayat-ayat tentang hijrah bermakna Makaniyah. “Dan
siapa yang berhijrah di jalan Allah (untuk membela dan menegakkan
Islam), niscaya ia akan dapati di muka bumi ini tempat berhijrah yang
banyak dan rezki yang makmur. Dan siapa yang keluar dari rumahnya dengan
tujuan berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia mati (dalam
perjalanan), maka sesungguhnya telah tetap pahala hijrahnya di sisi
Allah. Dan (ingatlah) Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.” An-Nisa:100
“Dan
orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh
atau mati, sudah tentu Allah akan mengaruniakan kepada mereka limpah
kurnia yang baik. Dan (ingatlah) sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik
pemberi limpah kurnia.” Al-Hajj:58
Sedangkan hijrah secara ma’nawiyah ditegaskan dalam firman Allah swt. “Dan
berkatalah Ibrahim: “Sesungguhnya aku senantiasa berhijrah kepada
Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”Al-Ankabut:26. “Dan perbuatan dosa tinggalkanlah.” Al-Muddatsir:5
Bentuk-bentuk hijrah maknawiyah
di antaranya meninggalkan kekufuran menuju keimanan. Meninggalkan
syirik menuju tauhid (hanya mengesakan Allah). Meninggalkan kebiasaan
mengingkari nikmat-nikmat Allah menjadi pandai bersyukur. Berpindah dari
kehidupan jahiliyah kearah kehidupan Islami. Berpindah dari sifat-sifat
munafik, plin-plan, menjadi istiqamah. Hijrah juga berarti berkomitmen
kuat pada nilai kebenaran dan meninggalkan kebatilan. Meninggalkan
perbuatan, makanan dan pakaian yang haram menjadi hidup halalan thayyiba.
Meninggalkan maksiat menuju taat hanya kepada Allah swt. Tinggalkan
kedengkian, tinggalkan korupsi, saling menjatuhkan sesama orang beriman,
saling menghujat, tinggalkan kesia-siaan, tinggalkan kebiasaan hidup
menjadi beban, dan tinggalkan kebohongan.
Sehingga
kata kunci dari hijrah adalah perubahan. Perubahan menuju lebih baik,
dalam segala hal. Perubahan itu dilakukan semata-mata karena kebaikan,
karena manfaat dan karena mencari ridha Allah swt. Rasulullah saw.
bersabda yang diriwayatkan Imam Bukhari: “Barangsiapa yang berhijrah
untuk Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya.
Barangsiapa yang berhijrah untuk dunia (untuk memperoleh keuntungan
duniawi) dan untuk menikahi wanita maka hijrah itu untuk apa yang
diniatkan nya.”
Oleh karena itu,
dalam menapaki hijrah ini kita perlu menetapkan arah atau tujuan hidup
dengan jelas, ambil bekalan yang cukup, waspadai godaan di jalanan dan
jangan tertinggal rombongan kebaikan, karena hidup layaknya musafir.
Allahu a’lam.
https://www.dakwatuna.com/2009/12/14/5026/refleksi-hijrah-dalam-kehidupan/#axzz5Vf9LNDWa







0 comments:
Post a Comment